Sejarah dan Makna Tiong Chiu

Kamis, 05 Oktober 2006 – oleh Anly Cenggana SH *)
Depresi Sosial Budaya Tionghoa
     Perkataan Tiong Chiu berasar dari kata Tiong berarti tengah dan Chiu berarti musim rontok, jadi boleh dikatakan sebutan Tiong Chiu arti secara harafiah berarti pertengahan musim rontok. Namun demikian masyarakat lebih kenal dengan sembahyang Tiong Chiu Pia sebenarnya penyebutan ini tidak tepat/salah kaprah namun kenyataan dalam kebiasaan masyarakat tetap demikian.
     Perayaan sembahyang kue bulan tahunan setiap tanggal 15 bulan delapan kalender Imlek, untuk tahun ini memasuki tahun Imlek ke 2557 tanggalan masehi jatuh pada tanggal 6 Oktober 2006. Pada hari itulah bulan paling bulat dan paling terang sepanjang tahun, karena pada hari itu jarak bulan dengan bumi dan bentuk kue yang bulat melambangkan terangnya bulan menyinari bumi.

Sejarah
     Bicara Tiong Chiu Pia dapat dibagi dalam tiga bagian (1) Adat Sembahyang Dewi Bulan, (2) kisah Dewi Bulan, (3) Kue.
     Pertama, sebelum Dinasty Qin 221-206 SM rakyat China sudah mengenal tradisi/adat sembahyang Dewi Bulan yang dihubungkan dengan posisi bulan bagi masyarakat untuk cocok tanam (agraris). Karena dianggapnya sinar rembulan dapat memberikan kesuburan dalam ekosistem tanah bagi kaum petani dan dimalam purnama memang bulan terterang sepanjang tahun juga diikuti musim panen.
     Kedua, menurut legenda zaman dahulu kala terdapat 10 matahari yang sangat mempengaruhi ekosistem bumi sehingga oleh Dewa Ho Yi pemanah Jitu Khayangan/langit, dipanalah matahari hingga sisa satu. Peristiwa ini Yi Wang Ta Tie (Tuhan) sangat malah dan menghukum HOYI dan istrinya Chang Er dengan cara menjadikan pasangan ini menjadi masyarakat biasa/ hidup di duniawi. Suatu hari mereka menemukan obat awet muda sepanjang masa dan dimakan oleh istrinya Chang Er sehingga tubuhnya ringan dan terbang menuju bulan. Dari sinilah asal muasal sembahyang Dewi Bulan.
     Kue BulanKetiga, kue Tiong Chiu Pia. Pada tahun 1206 M China dijajah Monggoria pimpinan Tieh Mu Chen hingga tahun 1368 M berarti selama 89 China dijajah Monggoria. China berhasil merebut kembali dari Monggoria berkat upaya kepala pengemis Zhu Yan Chang menjelang sembahyang Dewi Bulan mengedarkan pesan-pesan dalam kue-kue agar pada malam purnama (Tiong Chiu) kita merebut kekuasaan kembali dari tangan Monggoria dan ternyata berhasil bertepatan pada tanggal 9 September 1368 M. Semenjak itulah kue Tiong Chiu mengalami perkembangan hingga dewasa ini. Dan semenjak inilah berdirinya kerajaan pertama di Tiongkok dengan sebutan Dinasty Ming (1368-1644 M). Masa kepemimpinan Tieh Mu Chen 1206-1368 M oleh adiknya bernama Hu Pit Lei Han dinamai Dinasty Yan (1206-1368) M.

Tradisi
     Tradisi ini dalam aktualisasi kegiatan selalu dilengkapi atribut seni budaya Tionghoa terutama hiasan “lampion”. Memang atribut yang paling menonjol dalam penyambutan bulan purnama adalah Lampion karena disaat malam lampion-lampion dinyalakan lampu akan tampak menawan dan mempunyai suatu keindahan tersendiri. Kini lampion ini telah berkembang hingga dalam berbagai bentuk dan ukuran raksasa memberikan tontonan keindahan tersendiri.
     Soal lampion dalam penyambutan bulan purnama bahkan pernah tercatat dalam Musium Rekor Indonesia (MURI) atas pemasangan lampion terbanyak tahun 2002 sebanyak 4500 di Sanggar Agung pantai ria kenjeran Surabaya Jawa Timur, namun demikian rekor tersebut telah dipecahkan oleh Batam tahun ini dalam nuansa yang berbeda ketika menyambut malam Cap Go Me Imlek 2537/masehi 12 Februari 2006 lalu, yang tercatat dalam Musium Rekor Indonesia atas pemasangan lampion terbanyak di Indonesia sebanyak 5077 atas prakarsai Even Organizer Lialogue pimpinan Mellita bersama Harsono Ketua Pitun Batam.
     Nuansa ini juga selalu diikuti pertunjukan seni budaya di lokasi yang lapang dan menawan seperti telaga, danau, pantai. Lokasi semacam ini dimasa lampau masih memungkinkan, namun di era modernisasi dengan pembangunan yang pesat konsekuensinya lokasi yang baik dan strategis nyaris tidak memungkinkan lagi. Yang memungkinkan adanya panggung pentas seni dan masih terpelihara oleh sebagian rumah ibadah klenteng dewasa ini dalam kegiatan malam hiburan rakyat atas swadaya masyarakat.
     Orang Tionghoa zaman dahulu jarang berpergian terlebih kaum hawa, pada perayaan malam purnama ini dimanfaatkan oleh para muda-mudi untuk meniknamati hiburan rakyat dan sekaligus memungkinkan saling tatap muka/berkenalan yang dimanfaatkan saling mencari persahabatan bahkan ada yang hingga menuju kursi plaminan/pernikahan.
     Adakalanya bangsawan tertentu yang mempersuntingkan putrinya dengan melemparkan anyaman bola kain kepada pemuda yang memenuhi kriteria jika mendapatkan bola akan diambil sebagai menantu. Hal unik ini di era kini sudah tidak memungkinkan lagi karena adanya interaksi sosial yang efektif.
    Di era kini soal perjodohan masih diperlukan sehingga biro jodohpun sudah banjir dan juga dengan pengaturan semakin baik dan banyak terutama melalui media cetak maupun elekronik, kesempatan ini masyarakat banyak juga yang memanfaatkan

Religius
     Sembahyangan Tiong Chiu diselenggarakan pada tanggal 15 bulan delapan Imlek (Pue Gwee Cap Go) secara religius sebagai pernyataan syukur kepada Malaikat Bumi (Too Ti Kong/Hok Tik Cing Sien). Penyambutan di saat bulan purnama di pertengahan musim rontok di belahan bumi Utara. Saat itu cuasa baik dan bulan nampak sangat cemerlang. Para petani sibuk dan gembira karena berada di tengah musim panen. Maka musim itu dihayati sebagai saat-saat yang penuh berkah Tuhan Yang Maha Esa lewat bumi yang menghasilkan berbagai hasil bumi, sehingga malaikat Bumilah disembahyangi terutama bagi negara agraris yang terdapat empat musim seperti Tiongkok.
     Pada saat purnama yang cemerlang itu dilakukan sembahyang kepada Malaikat Bumi sebagai pernyataan syukur atas berkah yang diperoleh. Sebagai sajian khususnya ialah Tiong Chiu Pia yang melukiskan rembulan juga melambangkan Malaikat Bumi. Di dalam Upacara sembahyang Besar Tiong Chiu hendaknya dihayati makna yang tersirat bahwa Tuhan Maha Besar, Maha Pengasih dan segenap berkah karunia itu hendaknya mendorong dan meneguhkan Iman, menjunjung dan memuliakan kebajikan karena makna Malaikat Bumi membawakan berkah atas kebajikan. Menghormati Malaikat Bumi hendaknya mengingatkan pula kepada Sabda Nabi Ie Ien yang berbunyi “sungguh milikilah yang satu-satunya, yaitu “kebajikan”, Dialah yang benar-benar berkenan di hati Tuhan. Jangan berkata Tuhan memihak kepadaku, hanya Tuhan senantiasa melindungi yang satu, yakni kebajikan”.
     Selain sembahyang Malaikat Bumi, masyarakat justru banyak yang sembahyang kepada Dewi Bulan di malam hari. Soal spiritual tidak ada yang bisa menghalangi seseorang untuk menunaikan ibadah dan yang penting adanya niat untuk memberikan kelurusan dalam hati dengan membuka pintu rohani menunaikan ibadah untuk memberikan kenyamanan bathin bagi yang melaksanakannya. Justru kemelian perayaan malam purnama adanya persembahyangan kepada Dewi Bulan Selain sajian kue bulan juga bermakna mendoakan mendapatkan kecantikan bagaikan Dewi Bulan sepanjang jagad yang disimbolkan dengan bedak untuk dipakai oleh para pemuja.
     Dalam konteks kebangsaan yang ber-Bhinneka Tunggal Ika turut mengakui akan perbedaan namun tetap satu, sehingga secara tidak langsung segala kebudayaan yang terpelihara dalam masyarakat akan memperkaya khasanah kebudayaan nasional sepanjang tidak bertentangan dengan norma sosial budaya, keamanan, ketertiban dan kesusilaan.

*) Anly Cenggana SH, anggota Tim Pakar INTI Provinsi Kepri.
http://batampos.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=5611&Itemid=75 
as posted by Ambon in Budaya Tionghua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: