Pinggiran: Timur dan Barat, Agresi atau Harmoni?

Tahun 1980an banyak cendekiawan prihatin melihat hubungan antara dunia Barat (Amerika dan Eropa) dan Timur (negara berkembang dan Timur Tengah). Mereka mencoba menemukan perbedaan dan persamaan untuk menuju harmoni. Harmonilah tujuannya, saling melengkapi. Idealnya begitu, namun benarkah itu yang dicari oleh dunia Barat?

1990an dunia menjadi satu dunia besar, meminjam istilah kerennya: globalisasi. Jerman menjadi satu kembali, Uni Soviet runtuh. Muncul buku-buku yang membahas globalisasi. Bagaimana kita harus menghadapi globalisasi, tips and tricks, untuk personal, perusahaan maupun negara. Buku John Naisbitt “Global Paradox” menjadi best seller. Garis besar buku itu menceritakan perkembangan dunia, dan memperingatkan munculnya Asia sebagai kekuatan baru. Namun dalam ‘globalisasi’ tersebut akan muncul semangat ekslusif dari suku-suku. Negara akan terpecah-pecah. Pun Naisbitt percaya bahwa hal itu tidak terelakkan, menurut dia dengan berkembangnya semangat eksklusif regional akan membawa manfaat dengan ‘Think globally, act locally’.

Indonesia saat ini mengalami dampaknya. Dimulai dari 1997, saat kurs rupiah meluncur pesat (naik jet tepatnya). Beberapa pakar mencurigai permainan tersebut dilakukan oleh Soro, dengan tujuan membuat kurs lemah, dan yang umum terjadi kerusuhan politik senantiasa dimulai dengan ekonomi. Setelah ekonomi Indonesia terjun bebas, politik kacau, dan timbul semangat demokratisasi. Tetapi apakah benar demokrasi itu sesuai dengan budaya ‘Indonesia’?

Semenjak 1997 Indonesia dalam kondisi labil. Perpecahan di dalam negeri, pemisahan daerah menjadi negara terpisah, isu teroris yang dihembuskan, kerusuhan antar agama dan suku, terjadi.

Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengalami hal tersebut. Hampir seluruh Asia mengalaminya. Thailand, Malaysia, Vietnam, Myanmar, dan lainnya juga mengalami hal yang sama. Thailand dan Malaysia dengan cepat bangkit dari keterpurukan itu.

Eropa – semenjak Berlin menjadi satu – menghadapi penurunan ekonomi. Persatuan Jerman membawa semangat baru ‘Persatuan Eropa’. Ditandai dengan kerja sama ekonomi lebih erat antar negara Eropa. Pemersatuan mata uang adalah salah satu langkah konkrit. Untuk apa semua itu?

Dari sejarah kita belajar, Eropa sulit menguasai Asia dengan jalan kekerasan langsung. Alexander The Great hanya sampai pinggiran India. Romawi paling jauh pun hanya sampai Byzantium (Turki sekarang). Bahkan Hitler pun mengesampingkan Asia saat merencanakan ‘Deustchland Uber Alles’, memberikan konsesi penguasaan kepada Jepang. Dari sejarah juga kita belajar Eropa menguasai Asia dari perdagangan dan budaya. ‘West Indies’, daerah kolonial paling besar saat itu, dimulai dengan perdagangan. Opium War di Tiongkok dimulai saat orang-orang Tiongkok sudah dikikis semangat dan etosnya dengan candu.

Betapa terkejutnya setelah mengetahui bahwa dokumen-dokumen tradisional dan kuno Asia ternyata banyak berhamburan di dunia Barat. Dan itu sudah dilakukan ratusan tahun yang lalu. Untuk apakah mereka mempelajari budaya, adat-istiadat, sistem kepercayaan dan agama? Orang-orang Asia berbangga hati dengan mengatakan ‘mereka (org Barat) sudah kehilangan jati-dirinya, mereka mencari ketenangan/harmoni dalam budaya Asia’. Benarkah? Ilmu adalah suatu hal bermata dua, layaknya semua hal di dunia. Bisa menjadi positif, bisa menjadi alat yang menghancurkan juga.

Berapa banyak dokumen dan artifak sejarah Indonesia yang berada di negara lain? Tiba-tiba saja kita terkejut melihat lelang arca Budha di dunia sono.

Di televisi kita melihat ‘who wants to be millionaire’, ‘the apprentice’, ‘indonesian idol’. Semua bahan impor dari negeri seberang. Hollywood menjadi pusat sorotan tiap orang; Oscar, Emmy Awards, bla bla bla…Sebagian besar anak muda belia mengidolakan Potter. CNN menjadi siaran dunia, hampir tiap negara merelay siaran CNN. Media massa menjadi alat dekulturisasi paling menakutkan. Opini publik mudah dibentuk. Mungkin sebentar lagi kia akan menyaksikan PMA mendirikan stasiun siaran di sini.

Di samping itu kita menyaksikan dekadensi generasi muda. Pil koplo, shabu-shabu, ecstassy bukan barang yang sulit didapat. Pabrik ecstassy yang baru-baru ini ditemukan merupakan pabrik terbesar, dan pemiliknya mayoritas adalah orang bule.

Dunia pendidikan sudah mulai dimasuki oleh orang asing. Afiliasi dengan universitas luar negeri, sampai dengan pemberian gelar meski belajar di sini. Kiblat pendidikan sudah mengarah ke dunia barat dengan berbagai ideologi dan konsepnya.

Ekonomi sudah tidak perlu ditanyakan lagi. IMF dan World Bank mengulurkan tangan ‘membantu’ padahal intinya adalah mengacak-acak perekonomian. Sadarkah kita bahwa sumber daya yang menguasai hajat hidup orang banyak mulai dikuasai oleh orang-orang barat? PAM Lyonaise Jaya, siapakah itu?

Kita disodori dengan konsep demokrasi. Vox Populei Vox Dei. Men-demokrasi-kan sebuah negara menjadi tugas suci Amerika. Padahal, menurut saya yang bodoh ini, Indonesia hanya mengenal demokrasi sebagai jalan terakhir. Yang dikenal di Indonesia ini adalah musyawarah mencapai mufakat. Jika kata mufakat tidak tercapai barulah dilakukan pemungutan suara (demokrasi).

Cayhe yang bodoh ini meminta penerangan dari para tayhiap dan pangcu-pangcu terhormat untuk menjelaskan apa yang cayhe ungkapkan. Apakah kita sebagai orang timur akan harmonis dengan orang-orang barat? Apakah benar motivasi mereka (orang barat) mempelajari budaya timur adalah untuk mengusahakan harmoni?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: