Diam

“Silent is gold” ? What the hell this proverb about?

Suatu saat saya berhadapan dengan orang yang diam padahal ada hal yang perlu dipertanyakan. Mungkin orang tersebut merasa ‘diam’ adalah hal yang baik. Benarkah hal itu?

Diam bisa berarti komplen, protes; seperti pernah kita dengar adanya ‘protes diam’. Tetapi apa yang dikomplenkan, yang diprotes, ditulis di spanduk. Jadi diam di sini hanya berarti ‘tidak berbicara’, bukannya ‘tidak berkomunikasi’.

Bagi pengajar, diam adalah mengerti. Namun pengajar yang baik tidak begitu saja menerima hal ini. Ia akan senantiasa mencoba menangkap seberapa dalam pengertian murid-muridnya. Hal itu bisa dilakukan dengan bertanya balik, memberikan kuis, ulangan, dll. Bagi si murid, ‘diam’ memiliki beberapa arti:

  • Tidak mengerti. Jadi tidak tahu apa yang akan ditanyakan.
  • Malu bertanya, atau malu jika ditanya balik ternyata menunjukkan kebodohannya.
  • Malu jika pertanyaannya adalah pertanyaan bodoh.
  • Tidak peduli, toh nanti ujiannya bisa nyontek, open book, atau ujiannya masih lama.

Bagi si pengajar, kediaman memusingkan karena dia tidak tahu apakah muridnya mengerti atau tidak. Cara pengajaran yang baik adalah 2 arah, artinya ada diskusi antara pengajar dan murid. Dalam diskusi tersebut akan ada saling mempengaruhi, saling memperkaya. Jaman sekarang cara pengajaran kolonial tidak lagi sesuai. Guru seharusnya bukan sosok yang perlu ditakuti. Guru seharusnya adalah teman diskusi, tempat bertanya, dan menggambarkan realitas kepada para murid.

Istri, dengan muka perang, bertanya “Dari mana aja lu?” Suami memilih diam, tak bersuara. Dia memang lembur tetapi dia tidak bisa mengatakan pada istrinya bahwa dia lembur ditemani oleh sekretarisnya yang bahenol (eee..ini lembur beneran bukan ‘lembur’ ya, jangan salah persepsi dulu). Dia tahu istrinya akan terus mengejar dengan pertanyaan-pertanyaan kecil seperti ‘siapa saja yang lembur?’, ‘masa lembur sendirian?’, ‘bos lu aja gak lembur, ngapain lu lembur?’. Dia diam karena malas ribut dengan istrinya yang bisa memakan waktu berjam-jam. Anyway, ini bukan jalan keluar yang baik, seharusnya dia bisa berbohong; orang menyebutnya ‘white lies’.😀

Diam juga bisa berarti tidak peduli meskipun kepalanya mengangguk-angguk. Inilah yang paling berbahaya; diam untuk berpura-pura; pura-pura mengerti, memahami, namun dibalik itu semua yang ada adalah negasi. Tidak mengerti, tidak peduli, persetan, what the fuck, etc.

Dunia sekarang ini menuntut hubungan manusia yang singkat namun berisi. Dunia kerja, hubungan dengan anak, sanak saudara. Berapa banyak waktu yang kita perlukan untuk mengerti orang lain jika orang tersebut diam saja? Kita tidak perlu diam, bahkan kita perlu mengungkapkan kemauan, pikiran, dan perasaan kita sejauh dirasa perlu kepada orang lain.

Relasi tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya komunikasi. Arti komunikasi jauh melebihi verbal. Namun untuk mengerti pikiran, pandangan atau perasaan orang lain tanpa ungkapan verbal membutuhkan waktu yang lebih lama. Komunikasi memang tidak hanya verbal; bisa dengan tulisan, body language. Bagaimana dan kapan menggunakannya itulah yang harus diputuskan dengan bijak karena pihak lain mungkin saja tidak mengerti pesan yang ingin disampaikan. Nah..kalau itu terjadi, miscommunication namanya, sumber semua perselisihan.

Diam bisa jadi salah satu cara berkomunikasi, bisa juga tidak. Lebih banyak orang tidak mengerti diam sebagai cara berkomunikasi daripada yang mengerti karena diam tidak menunjukkan suatu ide, suatu ungkapan apa pun. So…siapa bilang silent is gold? Silent is the source of all miscommunication, misconception and quarrel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: