Sepotong Perjalanan

Pertemuan yang cepat merambat hati
Jalinan takdir bermain di antara kita.
Timbul keinginan memiliki…keinginan yang tak seharusnya ada
karena manusia lahir sendiri dan telanjang
tak ada sesuatu pun yang dimilikinya…..

Kenangan adalah buah pertemuan
karena tak ada pertemuan tanpa perpisahan
Kenanganlah yang menemani dan menghibur saat-saat hati gundah merana.
Dengannya ditemukan kesejukan dan…senyum.
Apa yang telah berlalu tidak akan terlupakan,
di dalam sanubari tergores ceritera perjalanan
yang membuat kita sampai di tempat sekarang ini

Semua perasaan akan melukai
sebab dia tidaklah abadi,
timbul dan tenggelam secepat buih-buih air
Namun luka itu sendiri menetap,
untuk mengingatkan betapa bodohnya kita
dan untuk disembuhkan oleh kebijaksanaan.
Nurani bukan perasaan dan ia nyata dalam tindakan
Sayang sungguh sayang, kita terlampau bodoh untuk mampu membedakannya.

Dalam kebersamaan manusia menempuh jalannya masing-masing
Tak akan ada yang mampu membelokkan
kecuali sesuatu yang lebih besar dari dirinya
Dunia penuh dengan hal-hal besar:
kesabaran, cinta, pengabdian, dan kebijaksanaan
Namun hanya segelintir manusia menyadari
bahwa dirinya hanyalah sebutir debu alam semesta
dan dia berbangga hati dalam kekerdilannya.

Siapa pun yang ingin membelokkan jalan
harus siap menghadapi air mata dan kepedihan
Sebab takdir dan keinginan akan menggilas dirinya.
Langit dan bumi terlalu agung untuk memenuhi keinginan manusia
Agung karena memberi tanpa melihat siapa penerima
Pohon hijau dan layu, binatang tanpa kaki maupun berkaki, dan manusia
menerima hal yang sama darinya.
Siapa memberi hak kepada manusia untuk menguasai?
Bukankah itu kesombongan dengan memberi anugerah pada dirinya sendiri?

Perkawinan bukan kepemilikan.
Suami tidak memiliki istrinya
istri bukan milik suaminya.
Di dalamnya masing-masing menempuh takdir.
Perkawinan lebih besar daripada suami atau istri
dan hanya dengan demikianlah ia bertahan mengarungi arus dan badai.
Pasangan yang baik adalah ia yang mendorong kesempurnaan pasangannya;
bukan ia yang memaksakan kehendak
atau ia yang pura-pura peduli dalam ketidakpeduliannya.
Mereka yang bersumpah di depan Yang Suci
membangun bahtera perkawinan dengan kasih sebagai kerangkanya,
toleransi sebagai tiang dan layar,
penghilangan ego sebagai lambung,
kebijaksanaan adalah kemudi,
pengertian sebagai lunas,
dan kesempurnaan pasangannya adalah pulau tujuan.
Demikianlah seharusnya perkawinan berjalan
serta menghasilkan awak-awak baru yang penuh kasih dalam perjalanannya.

Janganlah berbicara tentang benar dan salah
karena hal demikian adalah mengadili
dan tak bermanfaat kecuali menunjukkan kesombongan
Kebenaran tetap ada tanpa diucapkan
dan kesalahan akan terlihat walau ditutupi
Untuk apakah mengatakannya tanpa diminta?
Memahami,
membantu jika diperlukan,
bertindak dengan bijak,
tanpa mengadili
juga tanpa kesombongan.

Kau adalah kau dan aku adalah aku
Betapa absurdnya dunia
jika semua orang adalah aku
atau kamu.

Menumpahkan air mata untuk hal yang tak dimengerti
selain kepedihan meluber tak tertampung
Menenggelamkan diri dalam kemabukan:
melupakan semua cinta dan dendam
tiada esok tiada kemarin.
Untuk apa?
Air mata hanyalah untuk mereka yang tak mengerti
bahwa apa yang ditangisi adalah sama dengan yang pernah membuat tawa

Semua dikubur dalam-dalam
Berharap suatu hari kelak menjadi kerangka
dan waktu akan membersihkannya.

Ini sebuah perjalanan,
perjalanan sepanjang usia dan seumur alam semesta.
Perjalanan yang tak terlihat adanya akhir karena memang tiada akhir
selain menjadi satu dalam semesta itu sendiri
dan demikian menjadi sempurna.
Alam menanti penyempurnaan dirinya dalam manusia
sehingga manusia mampu memberi dirinya tanpa tergantung apa pun;
wajah, perasaan, tumbuhan atau hewan.
Dan ketika saat itu tiba,
suara kita adalah keceriaan burung-burung bermain di anak fajar
perbuatan kita adalah sepoi angin yang membelai penuh kasih segala sesuatu.
Oleh karena itu janganlah kau katakan tentang kesalahan,
pun jangan kau singgung soal penyesalan
sebab ini adalah jalanku
seperti emas yang harus dimurnikan dalam bara api.

Mengikuti langkah kaki di tengah malam
ditemani kunang-kunang dan dinginnya tiupan angin
Meninggalkan bayang-bayang di bawah lampu jalan
Keheningan mengusir sepi
Tak ada diri tak ada siapa pun
Bulan menggigil…jalan kosong….

Diary of Schizophrenic Man:Memoirs, 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: