Simbol

January 26, 2007

Terbang tak berbatas langit
pun tak hinggap di pepohonan.
Impian tak memiliki ruang,
melaju liar tak terkendali.
Membara merah bak surya di fajar, hidup baru;
Membara merah mendampingi senja, hilang jadi debu.
Awal dan akhir, timbul tenggelam, tarik hembuskan nafas,
itulah irama alam.
Langit Selatan disebut sebagai rumah,
tetapi siapa yang mengerti diriku sesungguhnya?
Phoenix bukanlah phoenix,
karena phoenix adalah karma, hukum alam;
sekaligus bukan keduanya.

-Sajak-sajak Walet


Dua Jalan

January 26, 2007

Ketidakyakinan bukanlah alasan tuk berkata bisa
karena itu sebuah penipuan.
Sebagaimana jalan menampakkan diri, ikutilah;
Siapa berkata bisa menentukan jalan
sementara manusia hanya menduga-duga tujuannya?
Semangat manakah yang harus dipelihara
karena kita tidak tahu ujung kehidupan ini?
Tidaklah muluk berharap langit terbuka,
dan pendahulu-pendahulu yang suci turun memberi petunjuk.
Aku bahagia karena aku manusia;

Yang tidak dicari menampakkan diri,
yang dicari menjauh dan hilang di horison.
Bukankah itu absurd?
Barangkali mencari bukan inti kehidupan.
Kehidupan telah dijalani, apa lagi yang perlu dicari?
Melihat tapi tidak melihat;
mengerti tapi tidak memahami;
Bergejolak dalam buih perasaan.
Bukankah semua itu omong kosong belaka?

Para bijak jaman dahulu tidak mengejar impian,
pun mereka tidak berharap.
Melaksanakan kewajiban adalah sebagian dari bakti manusia,
dan bukankah itu baik untuk membendung keliaran impian dan keinginan?
Sesungguhnya bekerja tanpa mengharap apa pun hanya mampu dilakukan
oleh mereka yang sudah memahami bagaimana air mengalir ke laut.
Tak bisa menikmati fajar menyingsing dan sambutan kicau burung.
Alangkah indahnya andaikata bisa mengerti kata-kata Budha,
‘hidup hanyalah sepanjang nafas’.

Apa boleh buat aku hanyalah manusia awam,
bukan pelajar atau filsuf.
Mencari nafkah demi jaminan keturunan,
menjamin orang tua di hari tuanya sebagai balas budi yang tak pernah impas.
Andai masih ada orang suci di dunia ini,
tahu tapi tidak memberitahu,
ingin tapi tidak mengajak,
waktuku belumlah tiba.
Jalanku bukanlah jalanmu.

- Sajak-sajak Walet


Kali Hitam

January 26, 2007

Semenjak terik meninggalkan siang,
sepoi angin membawa petang;
secangkir kopi masih di hadapan
dan bibir lancar berucap.
Tak ada perasaan,
hanya menikmati kebersamaan di sore hari.
Adakah lagi kebersamaan tanpa meminta?

- Sajak-sajak Walet


Kehilangan

November 25, 2006

Tak lagi kudengar tawa
Tak tampak senyum lepas dari wajahmu
Para sahabat tunduk diam

Sedu sedan dan air mata mengiringi
Menyalakan rokok persembahan
Menaburkan bunga lambang keharumanmu di antara kami

Terik membakar kulit
namun kecerahan langit mengantar kepergianmu
Secerah keberadaanmu di antara kami.

Tawamu tak lagi mengisi kelas
tapi semoga tawamu bergema di seluruh penjuru surga.
Amin.

— Memoirs to Juhe, one of my students


Sepotong Perjalanan

November 25, 2006

Pertemuan yang cepat merambat hati
Jalinan takdir bermain di antara kita.
Timbul keinginan memiliki…keinginan yang tak seharusnya ada
karena manusia lahir sendiri dan telanjang
tak ada sesuatu pun yang dimilikinya…..

Kenangan adalah buah pertemuan
karena tak ada pertemuan tanpa perpisahan
Kenanganlah yang menemani dan menghibur saat-saat hati gundah merana.
Dengannya ditemukan kesejukan dan…senyum.
Apa yang telah berlalu tidak akan terlupakan,
di dalam sanubari tergores ceritera perjalanan
yang membuat kita sampai di tempat sekarang ini

Read the rest of this entry »


Tentang Kesendirian

November 25, 2006

Kesendirian membuat mulut bungkam dan lidah kelu
Di dalamnya manusia berhadapan dengan diri sendiri
menguak kejahatan dan wajah-wajah palsu.
Sebagian takut karena dunia adalah untuk mereka.

Read the rest of this entry »


Jalan

November 25, 2006

Daun bambu bernyanyi diterpa angin
Gemericik air berkilau merendah

Beribu langkah terlalui
senantiasa memandang keagungan untuk melalui kenistaan
Menggapai tanpa memperoleh
Alur gelap, cahaya bintang membimbing

Read the rest of this entry »


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.